Latex

Standard

latex

Cinta pada pandangan pertama

Mungkin hal ini yang kurasakan ketika mengenal salah satu word processing ini 2 tahun lalu. Ketika itu saya dihadapkan pada sebuah proyek penyusunan buku Fisika Dasar yang dikerjakan tim yang kita sebut sebagai PHIWIKI. Setelah sekian lama bersahabat dengan salah satu produk Microsoft, saya langsung berpaling kepadanya. Sungguh betapa menantang dan menggodanya dirinya bagiku. Semangatku seperti halnya mengejar seorang pujaan hati untuk mengenal dan mempelajari dirinya lebih jauh. Saya berharap dia akan menjadi salah satu tool  yang akan berguna di kehidupanku.

Seiring berjalannya waktu, intensitas pertemuan kami semakin meningkat (secara prakteknya), mulai dari pengerjaan tugas, membuat soal latihan buat siswa, UTS, nulis buku, bikin CV, report research di KAIST, dan Insya Allah sedang menyusun skripsi juga mengandalkan dirinya. Bahkan ketika sedang menulis post ini saya sedang menyusun CV untuk persiapan pengajuan KP dengan mengandalkan bantuan darinya.

Latex, dengan segala keunggulan dan kerumitan, serta keasyikan dalam mengolah “kata” punya sisi positif dan negatif dibanding software lain. Namun, dirinya tetap memukau sebagai salah satu word processing yang handal, serta membuat hal susah menjadi mudah, meski terkadang sebaliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s