Khalifah

Standard

Manusia merupakan makhluk yang tercipta di dunia ini sebagai seorang khalifah yang mengatur kehidupan di dunia. Setidaknya sebagai khalifah dirinya, keluarganya dan alam di sekitarnya. Dalam hal ini saya ingin menyoroti salah satu tujuan kita di Bumi ini sebagai khalifah bagi alam di sekitar kita. Alam di sekitar kita memberikan sumber makanan, air, dan penghasilan serta berbagai manfaat yang kita rasakan secara lagsung ataupun tidak langsung.

Seringkali orang mengajak untuk mendirikan kembali khilafah, ada juga orang yang mengagungkan demokrasi, ada pula yang mengagungkan komunisme, serta berbagai ideologi yang menurut mereka paling benar dengan berbagai sumber dan fakta yang tidak akan saya bantah atau saya salahkan. Karena saya sendiri tidak tahu mana yan benar, mana yang salah, mana yang paling baik, mana yang sesuai. Berbagai kriteria yang diberikan untuk menilai mana yang baik, sesuai, dan benar. Tapi, tetap bagi saya hanya Allah yang tahu. Teringat salah seorang ustadz “Sulamut Taufiq“, mengajarkan tentang arti wallahu a’lam  di penghujung ngaji pagi tadi. Hanya Allah yang tahu. Bukan “hanya Allah yang paling tahu”, karena jika ada paling, akan ada yang paling dari paling. Maka, cukup “hanya Allah yang tahu”, baik tentang yang benar ataupun yang salah.

Kembali ke bahasan awal, sebagai khilafah bagi alam di sekitar kita, saya berangan-angan jika semua orang di muka bumi peduli dengan lingkungan sekitar, mencintai alam yang ada di sekitarnya. Mengatur dan memperlakukan alam dengan baik, akan terjadi keseimbangan dan alam tertata dengan baik, kita mendapat manfaat dari alam. Banjir dan tanah longsor, sebagai contoh bencana alam yang salah satu penyebabnya adalah kelalaian manusia, menjadi contoh ketidakseimbangan yang terjadi di negeri kita. Setiap orang ingin enak sendiri, inginnya dapat keuntungan paling besar, inginnya menjadi yang berkuasa, inginnya menjadi yang paling benar, inginnya menjadi sanjungan orang lain, serta semua keinginan yang berujung pada kata “serakah” dan berasal dari hawa nafsu.

Hari ini adalah hari dimana para pemimpin di negeri ini dipilih melalui salah satu cara yang “Demokrasi” dan semua akan ditentukan pada pemilu kali ini. Hari yang akan sangat menentukan siapa orang2 yang akan memegang kekuasaan di negeri ini, orang yang akan mengatur negeri ini. Saya hanya bisa berdoa dan berharap semoga pemimpin yang terpilih nanti dapat mendahulukan pemikiran dan menggunakan hati nuraninya dalam memutuskan dan memimpin negeri in. Bukan mendahulukan hawa nafsu serta mengutamakan kepentingan partai, bukan pula mencari cara untuk balik modal uang kampanye. Melainkan dengan ikhlas dan bijaksana dalam memimpin.

Sebagai warga negeri ini, kita memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana negeri ini 5 tahun ke depan. Karena para pemimpin nantinya adalah siapa yang menjadi mayoritas pilihan kita dalam pemilu. Mungkin apa yang kita pilih belum tentu yang akan menjadi pemimpin, namun ketika nantinya sudah terpilih, kita tidak punya kuasa untuk mengubahnya. Untuk itu sebelum memilih hendaknya kita niatkan untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik. Semoga siapapun yang nantinya terpilih dapat menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat dengan baik serta jujur dalam bertindak. Semoga dengan doa yang dipanjatkan setiap orang yang hendak memilih di waktu yang bersamaan akan diijabah setidaknya sebagian kecilnya, semoga pemimpin yang terpilih nantinya akan membawa kebaikan di negeri ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s