KATA-KATA HIKMAH IMAM AS-SYAFIE

Standard

“Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”
– (Imam asSyafie)

“Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafannya sedang ditenun”.
– (Imam asSyafie)

“Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang”
– (Imam asSyafie)

“Jangan cintai orang yang tidak m’cintai Allah. Kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu”
– (Imam asSyafie)

“Barangsiapa yang menginginkan Husnul Khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia”.
– (Imam Syafie)

“Doa di saat tahajud  adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran.”
– (Imam Syafie)

“Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”
– (Imam Syafie)

“Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya 4 perkara: malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan”.
– (Imam asSyafie)

“Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu”
– (Imam asSyafie)

“Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk  matamu”
– (Imam asSyafie)

Advertisements

Penyakit

Standard

Semua orang pasti tidak mau terkena penyakit. Namun, sakit menjadi anugerah. Menjadi pertanda bahwa kemampuan kita terbatas. Tubuh kita punya batasan dan membutuhkan waktu untuk istirahat. Waktu untuk mensyukuri nikmatnya kesehatan. Menikmati alur waktu yang berjalan perlahan. Merasakan butuhnya kasih sayang dan perhatian orang lain, bahwa manusia itu lemah.
Penyakit mengajarkan banyak hal kepada orang yang mau memikirkannya.
Kepada orang yang mensyukurinya.
Kepada orang yang belajar
Alhamdulillah…

Semoga sakit dapat menjadi kafarat atas dosa yang telah diperbuat. Kepada dosa yang belum diistighfaran.
Semoga sakit menjadikan pribadi yang semakin bersabar.

Ulinan – celotehan anak kemaren sore yang baru belajar menulis

Sidang I Tugas Akhir

Standard

Menjalani hidup sederhana dengan diiringi senyum, canda, tawa, tanpa beban

Tugas Akhir hanyalah sebuah tugas kuliah yang dikerjakan di akhir studi. Sehingga kerjakan saja seperti tugas biasa. Namun, dengan usaha yang maksimal tanpa membebani diri

Mungkin kata-kata itu saya camkan dalam benak ketika menginjak semester akhir di Jurusan Fisika. Setelah vakum selama 1 semester di semester 7 tanpa pernah menyicil skripsi, saya memulai pengerjaan skripsi dengan menjalani rutinitas mingguan kelompok diskusi Pak Umar (Dosen Pembimbing) di bulan Desember. Padahal saat itu, 2 orang teman sudah sidang 1, ya apa boleh buat, “Selow aj” toh juga masih ada waktu. Ketika itu saya baru memulai mengerjakan skripsi dengan “cukup” serius. Salah satunya karena Pak Umar selalu mengingatkan saya untuk segera sidang 1 dari Januari.

Januari ke februari, februari ke maret, maret ke april, dari keinginan awal sidang di bulan januari, gk keburu sampai ke februari merasa masih hijau, bulan maret males sidang 1, langsung kerjain koding model. Kemudian setelah macet tidak ada progress, semangat untuk sidang 1 muncul kembali sebagai “pelarian” dari kerjaan skripsi yang tidak ada kemajuan, niatnya sebagai pemicu semangat untuk mengerjakan skripsi lebih baik. Amiin.

Kronologis Sidang 1 (Rencana Awal)

<Kamis, 27 Maret 2014> Setelah kuliah Mekstat secara tidak sengaja bertemu Pak Umar di TU, saat itu saya sedang ada urusan administrasi dengan Pak Sulaiman mengenai form fastrack. Saya semapat ngobrol sebentar dengan Pak Umar, sekedar menanyakan waktu bimbingan “yang penting ngobrol”. Kemudian, setelah itu nongkrong di lab, dan berencana pulang. Eh, di perjalanan pulang ketemu dengan Pak Sulaiman lagi ditagih formnya, disini terjadi misinterpretasi dari saya, “masih loading”. ” Loh pak, formnya harus dikumpulin hari ini juga?”. dan diiyakan dengan tegas. “Wah harus ke Pak Umar nih, minta tanda tangan. Kenapa nggak daritadi saja”, pikir saya.

Setelah melakukan pencarian dalam 15 menit, saya masih harus nunggu Beliau selesai ngajar kuliah Fisika Batuan. Nah, ketika itu terbesit keinginan untuk sidang 1, mungkin karena bengong sendirian  jadi mikir kemana2. Setelah itu langsung saya utarakan keinginan saya untuk sidang dengan penguji Pak Acep dan langsung disetujui Pak Umar, tinggal tentukan jadwal dari kedua dosen. Karena saya juga ikut grup diskusi Pak Acep, saya ceritakan ke Pak Umar kemungkinan waktu kosong Pak Acep. Kemudian besoknya langsung ditentukan, sidang 1 di hari senin tanggal 7 April. Padahal waktu itu draft masih acak2an dan belum selesai. Tapi, ya sudahlah tinggal dilanjutin draftnya, kalau sudah ditentuin tanggal sidang mana bisa seenaknya sendiri. (Deadliner)

—Bersambung (Tulisan ini dibuat saat menunggu run program analisis ekonofisika)–

Khalifah

Standard

Manusia merupakan makhluk yang tercipta di dunia ini sebagai seorang khalifah yang mengatur kehidupan di dunia. Setidaknya sebagai khalifah dirinya, keluarganya dan alam di sekitarnya. Dalam hal ini saya ingin menyoroti salah satu tujuan kita di Bumi ini sebagai khalifah bagi alam di sekitar kita. Alam di sekitar kita memberikan sumber makanan, air, dan penghasilan serta berbagai manfaat yang kita rasakan secara lagsung ataupun tidak langsung.

Seringkali orang mengajak untuk mendirikan kembali khilafah, ada juga orang yang mengagungkan demokrasi, ada pula yang mengagungkan komunisme, serta berbagai ideologi yang menurut mereka paling benar dengan berbagai sumber dan fakta yang tidak akan saya bantah atau saya salahkan. Karena saya sendiri tidak tahu mana yan benar, mana yang salah, mana yang paling baik, mana yang sesuai. Berbagai kriteria yang diberikan untuk menilai mana yang baik, sesuai, dan benar. Tapi, tetap bagi saya hanya Allah yang tahu. Teringat salah seorang ustadz “Sulamut Taufiq“, mengajarkan tentang arti wallahu a’lam  di penghujung ngaji pagi tadi. Hanya Allah yang tahu. Bukan “hanya Allah yang paling tahu”, karena jika ada paling, akan ada yang paling dari paling. Maka, cukup “hanya Allah yang tahu”, baik tentang yang benar ataupun yang salah.

Kembali ke bahasan awal, sebagai khilafah bagi alam di sekitar kita, saya berangan-angan jika semua orang di muka bumi peduli dengan lingkungan sekitar, mencintai alam yang ada di sekitarnya. Mengatur dan memperlakukan alam dengan baik, akan terjadi keseimbangan dan alam tertata dengan baik, kita mendapat manfaat dari alam. Banjir dan tanah longsor, sebagai contoh bencana alam yang salah satu penyebabnya adalah kelalaian manusia, menjadi contoh ketidakseimbangan yang terjadi di negeri kita. Setiap orang ingin enak sendiri, inginnya dapat keuntungan paling besar, inginnya menjadi yang berkuasa, inginnya menjadi yang paling benar, inginnya menjadi sanjungan orang lain, serta semua keinginan yang berujung pada kata “serakah” dan berasal dari hawa nafsu.

Hari ini adalah hari dimana para pemimpin di negeri ini dipilih melalui salah satu cara yang “Demokrasi” dan semua akan ditentukan pada pemilu kali ini. Hari yang akan sangat menentukan siapa orang2 yang akan memegang kekuasaan di negeri ini, orang yang akan mengatur negeri ini. Saya hanya bisa berdoa dan berharap semoga pemimpin yang terpilih nanti dapat mendahulukan pemikiran dan menggunakan hati nuraninya dalam memutuskan dan memimpin negeri in. Bukan mendahulukan hawa nafsu serta mengutamakan kepentingan partai, bukan pula mencari cara untuk balik modal uang kampanye. Melainkan dengan ikhlas dan bijaksana dalam memimpin.

Sebagai warga negeri ini, kita memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana negeri ini 5 tahun ke depan. Karena para pemimpin nantinya adalah siapa yang menjadi mayoritas pilihan kita dalam pemilu. Mungkin apa yang kita pilih belum tentu yang akan menjadi pemimpin, namun ketika nantinya sudah terpilih, kita tidak punya kuasa untuk mengubahnya. Untuk itu sebelum memilih hendaknya kita niatkan untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik. Semoga siapapun yang nantinya terpilih dapat menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat dengan baik serta jujur dalam bertindak. Semoga dengan doa yang dipanjatkan setiap orang yang hendak memilih di waktu yang bersamaan akan diijabah setidaknya sebagian kecilnya, semoga pemimpin yang terpilih nantinya akan membawa kebaikan di negeri ini.

 

Latex

Standard

latex

Cinta pada pandangan pertama

Mungkin hal ini yang kurasakan ketika mengenal salah satu word processing ini 2 tahun lalu. Ketika itu saya dihadapkan pada sebuah proyek penyusunan buku Fisika Dasar yang dikerjakan tim yang kita sebut sebagai PHIWIKI. Setelah sekian lama bersahabat dengan salah satu produk Microsoft, saya langsung berpaling kepadanya. Sungguh betapa menantang dan menggodanya dirinya bagiku. Semangatku seperti halnya mengejar seorang pujaan hati untuk mengenal dan mempelajari dirinya lebih jauh. Saya berharap dia akan menjadi salah satu tool  yang akan berguna di kehidupanku.

Seiring berjalannya waktu, intensitas pertemuan kami semakin meningkat (secara prakteknya), mulai dari pengerjaan tugas, membuat soal latihan buat siswa, UTS, nulis buku, bikin CV, report research di KAIST, dan Insya Allah sedang menyusun skripsi juga mengandalkan dirinya. Bahkan ketika sedang menulis post ini saya sedang menyusun CV untuk persiapan pengajuan KP dengan mengandalkan bantuan darinya.

Latex, dengan segala keunggulan dan kerumitan, serta keasyikan dalam mengolah “kata” punya sisi positif dan negatif dibanding software lain. Namun, dirinya tetap memukau sebagai salah satu word processing yang handal, serta membuat hal susah menjadi mudah, meski terkadang sebaliknya.

Menulis

Standard
Berkarya

Quote Ummi

Banyaklah membaca untuk mengenal dunia, menulislah untuk dikenal dunia.

Hari ini tergeraklah tangan saya untuk menulis/blogging setelah sekian kali gagal dalam memulai nulis dari sejak lulus SMP. Saya hanya bertekad untuk membuat kenangan tentang apa yang telah kukerjakan, tempat yang pernah kusinggahi, hal yang kusenangi, pikiran yang sempat hinggap, semangat yang tumbuh, serta segala uneg2 dalam otak. Yah, saya juga nggak tahu sampai kapan semangat dan keinginan untuk menulis ini akan  bertahan. Tapi tidak ada salahya untuk mencoba dan bermain (menikmati hidup dengan sebaik-baiknya) dengan riang gembira.

Teringat pertama kali menulis, saya diberi nasehat oleh abah untuk berbagi hal yang baik dengan membuat orang lain meniru/mencontoh hal baik yang kita lakukan, atau meniru semangat kita untuk berubah. Jangan cuman ngomong atas suatu hal yang belum dilakukan, semua orang juga bisa. Abah ingin anaknya (Saya atau saudara) menulis buku atau bikin web untuk berbagi. Untuk menyampaikan pemikiran kreatif, brilian, ataupun ide gila. Agar orang lain ikut mungkin bisa mendapatkan manfaat atas itu.

Semangat untuk memulai menulis tumbuh kembali bahkan lebih kuat ketika kesibukan saya bertambah, ketika hari-hari saya terisi dengan koding, paper, tugas, dan laptop. Dimulai dari nasehat ummi saat saya menulis dwilogi Fisika Dasar bersama Tim PHIWIKI (udah kayak novel aja). Dua buah buku yang menjadi titik awal saya mengenal LATEX dan bagaimana susahnya bikin buku.

Saya hanya bisa berharap di sela-sela kesibukan saya dalam bermain, saya masih bisa diberi kesempatan untuk berbagi dan menulis.